Qonaah

 Dulu Mbah Moen sering berkata "wong neg ngalim mesti uripe bakal kepenak, geneo uripe gak kepenak mergo ora patek ngalim".

Setelah mendengar dawuhan beliau tsb tak kira kata "hidup enak" disini dalam hal materi, hidup serba ada dan dapat mengadakan apapun yg terbesit di dada.

Namun seiring waktu berjalan ketika melihat orang orang yg begitu alim bahkan masyhur kesalehannya malah banyak yg hidup pas pasan, bahkan tak jarang yg kekuranga.

Pikiranku pun mulai mempertanyakan apa artinya "hidup enak".  Dan setelah kuamati lagi seperti apapun kondisi mereka kehidupannya selalu nampak bersahaja dan terkesan tentrem dan ayem. "Apakah ini yg dinamakan hidup enak?" tanyaku dlm hati.

Ternyata Imam Arrozi pernah membahasnya, kata beliau "ada beberapa hal yg membuat kehidupan orang mukmin di dunia ini lebih enak dari pada orang kafir:

•Pertama, orang mukmin yakin kalau rizkinya sudah diatur dan dijatah oleh Allah, Ia juga tau bahwa Allah itu sangat baik dan bijaksana dan tentunya ndak pernah keliru, jadi ia merasa tenang dan yakin akan baik baik saja karena sudah diatur oleh yg maha baik.

Berbeda dg orang bodoh yg ndak mengetahui hal tsb atau malah ndak mengimaninya, ia akan selalu dalam kesedihan dan kesengsara'an. Tentunya karena memikirkan hal yg ndak perlu, sudah dijatah kok masih ragu.

•Kedua, orang mukmin tau kalau semuanya ada dalam kehendak Allah, dan kehendaknya lah yg akan terjadi meskipun kita tidak berkehendak. Jadi ia pun selalu melakukan persiapan untuk menerima apa yg ditakdirkan baik suka maupun duka, jadinya nanti kalau ada musibah ia ndak begitu kaget dan ndak begitu bersedih.

Berbeda dg orang bodoh, ia ndak mau menahu hal hal tsb. Akhirnya ketika ada musibah ia akan sangat terpukul dan larut dlm kesedihan.

•Ketiga, orang mukmin hatiya dipenuhi oleh pengetahuan ttg sifat sifat ketuhanan dan pemahaman akan pengaplikasian sifat tsb, jadinya ia ndak sempat memikirkan hal hal kedunia'an yg menyedihkan.

Berbeda dg orang bodoh, ia ndak begitu tau ttg tuhannya sehingga hatinya hanya terlukis gemerlapnya dunia. Jadinya akan mudah bersedih ketika gemerlap tsb terganti oleh musibah yg bertubi tubi.

•Keempat, orang mukmin tau kalau kenikmatan dunia ini hanyalah berkualitas rendahan karena hanya semu dan ndak abadi. Jadi ia ndak begitu bersedih ketika ndak memilikinya ndan ndak begitu senang ketika ditakdirkan memiliki.

Berbeda dg orang bodoh, ia ndak tau akan hal tsb. Ia pikir kenikmatan yg ia rasakan akan abadi dan tak tergantikan, nyatanya fasilitas yg dulunya terkesan paling mewah kini terganti oleh fasilitas baru yg lebih mewah. Akhirnya ia pun akan bersedih ketika tidak memilikinya dan akan bereuforia ketika sedang menikmatinya.

•Kelima, orang mukmin tau kalau kenikmatan yg ada akan berubah fungsi dan sirna seiring berjalannya waktu.

Andaikan tidak berubah dan tetap utuh spt sedia kala tentu kenikmatan tsb tidak akan sampai padanya melainkan masih pada pemilik awalnya, karena sama sama abadi.

Ketika ia mengetahui hal tsb ia pun menyikapinya dg biasa biasa aja dan ndak sebegitu ada ketergantungan pd apapun yg ia miliki, kalau ada ya dimanfaatkan dan kalau ndak ada ya udah.

Berbeda dg orang bodoh, ia merasa apapun yg ada sekarang dapat dinikmati kapanpun. Karena ndak terpikirkan nantinya kenikmatan tsb akan berubah entah menua atau malah sirna.

Ujung ujungnya ia akan kecewa ketika berubah dan bersedih ketika kehilangan".

📚 روح المعاني ج ١٤ ص ٢٢٦

Komentar

Postingan populer dari blog ini

syukur